Selasa, 13 November 2012

DAMPAK PERTAMBANGAN PESISIR TERHADAP LAUT BABEL (BANGKA BELITUNG)


Potensi pertambangan pasir timah wilayah Bangka cukup menjanjikan hingga menarik para pengusaha luar dan dalam daerah Bangka untuk berinvestasi. Tak heran, wilayah laut dan darat berpotensi memiliki cadangan biji timah pun hampir digarap untuk usaha pertambangan. Meski demikian dampak keberadaan aktivitas kapal isap di wilayah Babel ini belum sepenuhnya dirasakan bagi kesejahteraan masyarakat, baik dari segi lingkungan, fee (kompensasi), serta perizinan dan tak kalah penting tenaga kerja asing (TKA) yang bekerja di kapal isap.
Adapun dampak yang ditimbulkan dari aktivitas pertambangan di pesisir laut oleh Kapal Isap antara lain:
1.    Sebagian besar terumbu karang tertutup lumpur bahkan tertimbun oleh debu sisa penambangan timah lepas pantai. Kerusakan ekosistem alami peissir ini akhirnya berdampak pada menurunnya stock perikanan yang dibuktikan dengan menurunnya hasil tangkapan nelayan. Ini membuktikan bahwa kerusakan akibat penambangan berdampak hingga bermil-mil jauhnya. Dampaknya, harga ikan di Pulau Bangka menjadi mahal dan daya beli masyarakat terhadap ikan secara tidak langsung semakin menurun.
2.    Sedimentasi lumpur tersebut menyebabkan terumbu karang tertutup lumpur dan mati, yang berganti dengan makro alga, dan jika terus menerus dibiarkan daerah tersebut akan menghadapi bencana pangan dan ekologi akibat langkanya berbagai jenis ikan karena habitatnya telah dirusak. Kerusakan terumbu karang berdampak pada turunnya produksi ikan tangkap nelayan, karena semakin kecil ukuran ikan yang tertangkap semakin jauh daerah penangkapan ikan, hal ini mengakibatkan meningkatnya biaya produksi nelayan dan menyebabkan rendahnya pendapatan nelayan kecil dan harga ikan mahal.
3.    Pemulihan (recovery) ekosistem terumbu karang yang rusak akibat aktivitas penambangan sangat sulit untuk dilakukan. Ini karena telah terjadi perubahan tipe substrat dan tertutupnya terumbu karang oleh lumpur dan debu. Syarat utama untuk melakuakn rehabilitasi adalah tidak terjadi lagi tekanan ekologis. Ini artinya laut harus steril dari aktivitas penambangan lepas pantai.
4.    Akibat pengerukan timah di lepas pantai terjadi perubahan topografi pantai dari yang sebelumnya landai menjadi curam. Hal ini akan menyebabkan daya abrasi pantai semakin kuat dan terjadi perubahan garis pantai yang semakin mengarah ke daratan. Aktivitas pengerukan dan pembuangan sedimen akan menyebabkan perairan di sekitar penambangan mengalami kekeruhan yang luar biasa tinggi. Radius kekeruhan tersebut akan semakin jauh ke kawasan lainnya jika arus laut semakin kuat. Karenanya, meskipun pengerukan tidak dilakukan di sekitar daerah terumbu karang, namun sedimen yang terbawa oleh arus bisa mencapai daerah terumbu karang yang bersifat fotosintetik sangat rentan terhadap kekeruhan.
5.    Sekitar 50 persen terumbu karang di Provinsi Bangka Belitung (Babel) rusak akibat sedimentasi lumpur yang berasal dari aktivitas penambangan timah di perairan provinsi kepulauan berpenduduk 1,2 juta jiwa tersebut. kerusakan terjadi akibat terumbu karang tertutup lumpur terkait kegiatan kapal isap dan tambang inkonvensional (TI) apung yang terus menyedot timah di wilayah perairan. 30 titik wilayah perairan Pulau Bangka dan Belitung mulai 2007 hingga 2010, sebanyak 50 persen terumbu karang mengalami kerusakan akibat tertutup lumpur sebagai dampak beroperasinya kapal isap dan TI apung serta diperparah pengeboman ikan di perairan kedua pulau tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar